Pencegahan Demam Berdarah dengan Ayo 3M Plus Vaksin DBD

Pencegahan Demam Berdarah dengan Ayo 3M Plus Vaksin DBD

Spread the love

Cegah DBD dengan Ayo 3M Plus dan Vaksinasi DBD

Memasuki musim hujan ini seperti sekarang ini kita perlu lebih ekstra dalam menjaga kesehatan serta meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi serangan beragam penyakit dengan menjaga kebersihan lingkungan, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

Musim hujan ini ditandai dengan cuaca yang tidak stabil. Hal ini membuat kelembaban dan suhu udara sangat tinggi, sehingga menjadi sarang bagi berbagai penyakit, salah satunya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Negara beriklim tropis dan subtropis beresiko tinggi terhadap penularan virus tersebut. Hal ini dikaitkan dengan kenaikan temperatur yang tinggi dan perubahan musim hujan dan kemarau disinyalir menjadi faktor resiko penularan virus dengue.

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit berbahaya karena dapat membahayakan jiwa jika tidak cepat ditangani.  Penyakit yang disebabkan virus dengue dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti membuat penderitanya mengalami rasa nyeri yang hebat, bahkan seluruh tulang dan persendian seakan-akan terasa patah.

Ciri-ciri DBD biasanya muncul 4–10 hari setelah terinfeksi virus dengue. Dengan beberapa gejala yang umum pada pasien DBD, adalah demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, mual, serta munculnya bintik-bintik merah di kulit. Bintik merah yang ada di kulit penderita DBD ini merupakan salah satu tanda perdarahan akibat dari menurunnya jumlah trombosit dan kebocoran plasma.

DBD bisa menyebabkan perdarahan yang lebih berat dan berakibat fatal. Tandanya bisa berupa mimisan, gusi berdarah, BAB berdarah, hingga syok. Jika tidak segera mendapatkan penanganan secara intensif demam berdarah bisa menyebabkan komplikasi yang cukup parah, bahkan memiliki potensi dalam menyebabkan kematian.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dari awal tahun 2023 sampai dengan minggu ke-33 57.884 kasus (IR 21,06/100.000 penduduk) dan kematian sebanyak 422 kematian (CFR 0,73%). Kasus Dengue/DBD terlaporkan dari 462 Kab/Kota di 34 Provinsi. Kematian akibat dengue terjadi di 177 Kab/Kota di 32 Provinsi.

Semua orang di Indonesia berisiko terkena penyakit DBD tanpa melihat usianya.Tiga dari empat kematian akibat dengue paling banyak terjadi pada anak usia 0 sampai 14 tahun. Bahkan pada tahap awal, penyakit demam berdarah sulit dibedakan dengan demam pada penyakit flu biasa.

Para orang tua biasanya tidak menyadari anaknya mengalami DBD sampai gejalanya sudah parah. Hal inilah yang membuat kasus demam berdarah dengue (DBD / dengue) masih menjadi perhatian kesehatan masyarakat Indonesia sampai saat ini.

Terkait dengan itu, berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah bekerja sama dengan elemen masyarakat dan pemangku kepentingan  melakukan edukasi mengenai pencegahan DBD, untuk mengajak masyarakat melakukan  #Ayo3MPlusVaksinDBD.

Takeda sebagai perusahaan biofarmasi terkemuka yang berbasis nilai berkomitmen untuk memerangi dengue dengan akses yang luas terhadap vaksin dan dengan mendukung kerjasama publik-swasta yang komprehensif untuk mencapai tujuan Indonesia yaitu nol kematian akibat demam berdarah dengue pada tahun 2030. Oleh sebab itu, Takeda telah membangun kerja sama yang kuat dengan para pemangku kepentingan terkait upaya melawan dengue.

Takeda dalam hal ini mengajak masyarakat untuk turut serta dalam kampanye “Langkah Bersama Cegah DBD”.

Langkah Bersama Cegah DBD adalah kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat yang dituangkan dalam sebuah gerakan bersama yang massive,menyenangkan, dan mengajak masyarakat untuk turut berkomitmen dengan “The First Living Pledge” pencegahan DBD 3MPlus dan Vaksin DBD secara berkelanjutan, yang akan mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai komitmen bersama melawan dengue selain itu mencangkup kegiatan jalan sehat, gerai edukasi interaktif, jumpa komunitas, stand up comedy, serta edukasi dengue dengan para pakar.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines mengatakan, “Kami merasa terhormat dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan kepada kami dalam menjalin kemitraan untuk mencegah DBD dan mencapai nol kematian akibat DBD di Indonesia pada tahun 2030.

Takeda tetap berkomitmen untuk memainkan peran aktif dalam memerangi DBD sebagai salah satu bagian dari KOBAR (Koalisi Bersama Lawan Dengue) dari sektor inovator. Langkah-langkah inovatif, seperti pelaksanaan kampanye masyarakat #Ayo3MplusVaksinDBD dan penyediaan vaksin DBD, semua ini secara bersama-sama membawa kita lebih dekat ke tujuan bersama yaitu melindungi masyarakat Indonesia dari penyakit DBD.

Pencegahan DBD bisa dilakukan dengan langkah sederhana yang disebut ”3M Plus”. Tujuannya, untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang bisa menularkan virus dengue penyebab DBD ke manusia.

Selain itu, sekarang juga sudah ada vaksin yang mampu mengoptimalkan pencegahan demam berdarah.

Karena demam berdarah dengue bisa sangat berbahaya dan bahkan sampai sekarang masih belum ada obat yang bisa secara spesifik untuk menyembuhkan DBD, langkah pencegahan DBD adalah senjata yang paling utama untuk menghadapi penyakit ini.

Pencegahan DBD dengan Program 3M Plus

Pencegahan Infeksi virus penyebab DBD tentunya bisa kita cegah dengan menghentikan berkembang biaknya nyamuk yang menjadi penghantar virus ini. Dengan cara melakukan penanganan langkah 3M Plus, yaitu:

Menguras

Harus rajin menguras atau membersihkan tempat penampungan air, seperti bak mandi, atau toren air, serta jangan lupa perhatikan tumpukan kaleng bekas atau ember yang bisa menampung air hujan agar perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti bisa dihentikan.

Menutup

Tempat atau barang yang bisa menjadi wadah genangan air juga sebaiknya ditutup untuk menghalangi nyamuk berkembang biak di dalamnya. 

Mendaur ulang

Jika memiliki barang bekas yang masih bermanfaat bisa dipakai kembali ataupun diolah untuk bahan baku industri bisa dikumpulkan untuk dikreasikan sendiri menjadi pot tanaman, mainan anak ataupun barang berguna lainnya. Lalu bisa juga dijual ke tempat penampungan dan daur ulang.

Selain hal yang telah disebutkan diatas ada juga langkah tambahan dalam pencegahan DBD diantaranya adalah Menggunakan obat anti nyamuk untuk mencegah gigitan nyamuk, misalnya dalam bentuk losion, semprot, atau elektrik. Memasang kawat kasa pada jendela dan lubang ventilasi.

Dan untuk Pencegahan DBD secara maksimal adalah dengan melakukan Vaksinasi DBD supaya dapat mencegah infeksi virus dengue yang lebih parah atau munculnya gejala yang berakibat fatal.

Selain pencegahan demam berdarah dengan gejala yang parah, vaksin DBD juga mampu menurunkan risiko terjadinya komplikasi akibat demam berdarah, serta dikatakan dapat mengurangi perlunya rawat inap dan lamanya rawat inap di rumah sakit akibat DBD.

Pada acara Konferensi Pers Kemenkes dan Takeda di Kegiatan “Langkah Bersama Cegah DBD”, Jakarta Pusat, Minggu 5 November 2023, Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morschek, pemerhati dengue pun menceritakan pengalaman sedih mereka saat anak keduanya Mars terinfeksi DBD.  Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa semua orang berisiko, tidak tergantung pada usia, di mana mereka tinggal, atau gaya hidup mereka dengan melaksanakan 3M Plus dan menerima dua dosis vaksin DBD, Ringgo Agus dan istri tentunya lebih tenang

 Masyarakat tetap dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter masing-masing sebelum menerima vaksinasi di berbagai fasilitas kesehatan.

Pada kesempatan yang sama dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, mengatakan vaksin dengue untuk usia bisa diberikan kepada orang dewasa di bawah 45 tahun.

Dan vaksinasi untuk anak anak dijelaskan oleh dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A, Dokter Spesialis Anak bahwa vaksin DBD sudah bisa mulai diberikan pada usia 6 tahun–18 tahun.“Semua anak sejak usia 6 tahun sampai 18, tetap direkomendasikan untuk diberikan vaksin atau imunisasi dengue” dengan syarat kondisi anak yang divaksin harus dalam kondisi sehat tidak sedang dalam infeksi akut. Seperti demam tinggi, batuk pilek hebat, atau diare hebat. Pada kondisi tersebut, sebaiknya ditunda dulu untuk melakukan vaksinasi menunggu sampai kondisi tubuh anak sehat.

Vaksinasi DBD secara uji klinis dapat mengurangi tingkat kejadian terjangkitnya DBD yang dapat terjadi berulang kali baik pada anak dan dewasa serta menurunkan tingkat keparahan yang akan menurunkan tingkat rawat inap dan kematian karena DBD.

Usia indikasi vaksin DBD yang luas yaitu 6-45 tahun membuat vaksin DBD dapat melindungi keluarga dan komunitas terhadap penyakit ini. Vaksin DBD saat ini sudah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan seperti klinik dan rumah sakit.

C-ANPROM/ID/QDE/0302 | NOV 2023