Pemberantasan Penyakit Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas di Tengah Pandemi

Pemberantasan Penyakit Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas di Tengah Pandemi

Spread the love

Pemberantasan Penyakit Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas

Penyakit kusta adalah suatu penyakit yang sudah ada sejak lama. Penyakit ini dianggap sudah ada sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Baru pada tahun 1873 kuman penyebab penyakit kusta ditemukan oleh seorang dari Norwegia bernama Dr. Gerhard Armauer Henrik Hansen.

Kusta adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta dapat membuat luka pada kulit, membuat kerusakan saraf, menyebabkan lemahbotot, dan mati rasa.

Kusta bila tidak secepatnya ditangani, penyakit ini bersifat sangat progresif dan dapat menyebabkan kecacatan. penularan penyakit kusta melalui kontak langsung antar kulit penderita dan secara inhalasi atau menghirup udara yang terdapat droplet (partikel air) penderita saat berbicara.

Penyakit kusta ada dua macam, kusta basah dan kusta kering.
Kalau kusta kering, tandanya ada bercak-bercak berwarna putih seperti panu, tapi jumlahnya sedikit dan mati rasa. Jika terkena api atau tertusuk peniti, tidak berasa. Pemulihannya bisa dilakukan dengan minum obat secara rutin hingga 6 bulan.

Sedangkan, pada kusta basah, bercak-bercaknya tumbuh dalam jumlah yang banyak dan berwarna kemerahan, serta ada penebalan kulit. Pemulihannya lebih lama dari kusta kering. Bisa sampai 12 bulan dengan minum obat secara rutin.

Kusta diduga ditularkan melalui tetesan air dari hidung dan mulut selama berada berada di dekat dengan orang yang mengalami kusta, serta kontak langsung dengan kasus infeksi yang tidak bisa diobati.

Indonesia sampai sekarang belum terbebas sepenuhnya dari kusta. Penyakit ini masih dapat ditemukan di beberapa daerah. Masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini dan dampak yang ditimbulkannya merupakan salah satu faktor mengapa penyakit ini masih ada hingga sekarang.

Berbagai upaya telah banyak dilakukan untuk mengurangi penyebaran penyakit kusta adalah mengajak masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta meminta pada masyarakat untuk berobat jika ada tanda-tanda kusta.

Di masa pandemi ini bagaimanakah penanggulangan penyakit kusta ? Semua penjelasan tentang penyakit kusta saya dapatkan saat mengikuti Talk Show Ruang Publik yang disiarkan langsung melalui Live Youtube bersama KBR dengan Tema Geliat Pemberantasan Kusta dan pembangunan inklusif disabilitas di tengah pandemi, dengan nara sumber Bapak Komarudin, S.Sos.M.Kes Wasor Kusta Kabupaten Bone dan Dr Rohman Budijanto SH MH Direktur Eksekutif the Jawa Pos Institute of Pro Otonomi JPIP Lembaga Nirlabaa Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah.

Narasumber yang hadir menyampaikan akan terus mengkampayekan pencegahan kusta agar penyakit ini bisa dikendalikan karena selama pandemi ini sempat terhenti.

Bapak Komarudin memberikan penjelasan selama pandemi ini penyakit kusta di kabupaten Bone mengalami penurunan 1.7 per 10000 penduduk dikarenakan banyaknya aktivitas yang dibatasi dan kegiatan yang tidak semua bisa dikerjakan. Dinkes setempat juga selalu mengkampanyekan kepada masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan seperti layaknya menjaga penularan covid 19.

Penularan penyakit kusta hampir mirip dengan penularan Covid 19 yakni melalui cairan ludah atau droplet dan melalui saluran pernafasan yang membedakan adalah penyakit kusta bisa mengakibatkan kecacatan pada fisik penderitanya.

Untuk pencegahan penularan penyakit kusta masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan 5 M seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan memakai sabun, menjauhi kerumunan orang banyak dan membatasi interaksi dengan orang lain sebisa mungkin. Dengan selalu menerapkan 5 M diharapkan dapat mencegah penularan kusta dan penularan covid 19.

Bapak Komarudin juga menjelaskan tentang program program yang dilakukan pemerintah Bone untuk mengendalikan kusta di kabupaten Bone salah satunya

Pemberian obat untuk mencegah kusta
Pemeriksaan rutin kepada penderita kusta
Melakukan survey kepada anak anak sekolah
Selalu mengkampanyekan pencegahan kusta
Intensifikasi kader

Selain tenaga kesehatan para kader yang terlatih juga dilibatkan dalam penanggulangan kusta untuk mendata kelainan kulit dan memberikan penyuluhan tentang kusta. Setiap penderita kusta harus di periksa fungsi syaraf mereka sejak dini untuk mencegah kecacatan yang dialami.

Penyakit kusta bukan ditakuti penyakitnya tapi karena kecacatan yang dialami pasien mengakibatkan penderita menjadi minder dan menarik diri dari lingkungan sekitarnya.oleh karena itu para disabilitas diberikan pelatihan agar bisa terus produktif dan berkarya salah satu pelatihannya adalah diajak untuk mendaur ulang sampah plastik atau barang bekas menjadi barang yang bermanfaat dan produktif sehingga para disabilitas bisa berperan aktif di masyarakat.

Bapak Komarudin juga mengatakan betapa pentingnya semangat kebersamaan dan ketepatan dalam bertindak sesuai dengan moto orang Bone Ya Tutu Ya Slame, Ya Capa Ya Cilaka yang artinya barang siapa waspada maka ia akan selamat dan barang siapa yang lalai maka ia akan celaka.

Mari kita lakukan pencegahan dan pengendalian penyakit kusta agar tidak ada lagi kasus baru ditemukan di Indonesia dengan selalu melakukan menerapkan 5 M dan menjaga daya tahan tubuh untuk mencegah penularan.