Pekan Sadar Malnutrisi 2024 Pentingnya Pencegahan Malnutrisi Sejak Dini

Anak anak membutuhkan asupan nutrisi yang bagus agar tubuh mungilnya tumbuh dengan optimal. Jadi saat makan,yang dibutuhkan bukan hanya kenyang saja tapi orang tua harus memastikan makanan yang masuk ke mulut si Kecil mengandung berbagai macam gizi yang dibutuhkan tubuhnya hal ini agar kesehatan tubuhnya selalu terjaga
Setiap orangtua tentunya harus mencukupi gizi Si Kecil. Pasalnya, jika gizi yang sangat dibutuhkan Si Kecil tidak terpenuhi, ia dapat mengalami malnutrisi yang tentunya bisa menghambat proses tumbuh kembang anak.
Malnutrisi adalah keadaan di mana terjadi kekurangan atau kelebihan asupan energi, protein, zat gizi lain karena perubahan dari kebiasan makan atau pola makan yang tidak tepat. Secara umum, kondisi ini terbagi dalam 2 bentuk, yaitu terlalu sedikit nutrisi (kurang gizi) atau terlalu banyak nutrisi (overnutrition). Meskipun banyak terjadi pada anak-anak, tetapi sebenarnya malnutrisi tidak memandang usia karena dapat terjadi juga pada orang dewasa, baik itu laki-laki maupun wanita.
Malnutrisi pada anak adalah masalah serius yang memerlukan perhatian dan upaya bersama, terutama di 1000 hari pertama kehidupan anak. Saat ini, malnutrisi merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama di kalangan anak-anak dan ibu hamil. Terlihat dari hasil Laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan RI, angka nasional prevalensi stunting tahun 2023 sebesar 21,5 persen, yang artinya hanya turun 0,1 persen jika dibandingkan tahun 2022 yakni sebesar 21,6 persen.

Selain itu, berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO) kasus malnutrisi di Indonesia masih tergolong tinggi yaitu menduduki peringkat ketiga di Asia Tenggara. Faktor kemiskinan, kurangnya akses terhadap pangan bergizi, rendahnya pengetahuan tentang gizi, serta ketidakmerataan layanan kesehatan menjadi penyebab utama dari malnutrisi di berbagai wilayah Indonesia.
Terdapat 4 bentuk malnutrisi, yaitu:
Kurang gizi, yang meliputi wasting (berat badan rendah menurut tinggi badan), stunting (tinggi badan rendah menurut umur), dan kekurangan berat badan (berat badan rendah menurut umur).
Malnutrisi terkait mikronutrien, yang meliputi defisiensi mikronutrien (kekurangan vitamin dan mineral penting) maupun kelebihan mikronutrien
Kelebihan berat badan, obesitas
Penyakit tidak menular yang berhubungan dengan diet, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan beberapa jenis kanker).
Kekurangan nutrisi antara lain ditandai dengan berat badan rendah, lengan dan kaki kurus, kelelahan terus menerus, mudah pingsan, mudah tersinggung, rambut mudah rontok, suhu tubuh rendah, terus menerus merasa kedinginan, serta detak jantung dan tekanan darah yang rendah.
Sedangkan orang yang kelebihan nutrisi dapat mengalami gejala seperti kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, dan resistensi insulin.
Akibat dari malnutrisi mungkin seseorang akan mengalami masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, pemulihan yang lambat dari luka dan penyakit, dan risiko infeksi yang lebih tinggi.

Bapak Ari juga menjelaskan pengertianHal ini disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dalam acara Pekan Sadar Malnutrisi 2024, yang berlokasi di Menteng, Jakarta Selatan, pada hari Selasa tanggal 17 September 2024, mengungkapkan orang dengan malnutrisi harus cepat mendapatkan penanganan serius, karena permasalahan malnutrisi ini dapat menyebabkan penurunan imunitas. Menurunnya daya tahan tubuh ini pastinya akan mempersulit proses penyembuhan. malnutrisi menurut WHO yaitu kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan dalam asupan energi maupun nutrisi pada seseorang.
Malnutrisi sangat berbahaya karena banyak dampak yang ditimbulkan seperti berbagai gangguan biologi pada orang yang mengalami malnutrisi termasuk penurunan imunitas, mental, kekuatan otot, hingga gangguan fungsi jantung. Satu hal yang perlu kita ingat adalah
Orang kurus belum tentu malnutrisi, begitu juga orang gemuk juga belum tentu tidak mengalami malnutrisi, untuk mengdiagnosanya dibutuhkan pemeriksaan untuk mengetahui keadaan malnutrisi yang sedang atau berat.
Perhimpunan Nutrisi Indonesia (Indonesian Nutrition Association/INA) telah berusaha dan berpartisipasi memerangi malnutrisi dengan melakukan berbagai kegiatan dengan menjadi salah satu duta kegiatan Pekan Sadar Malnutrisi (Malnutrition Awareness Week/MAW) pada tanggal 16 – 20 September yang diselenggarakan oleh American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN) sejak 2017.
Mengusung tema ‘Wujudkan Indonesia Sehat dengan Cegah Malnutrisi Sedari Dini’, Pekan Sadar Malnutrisi didukung oleh Nutricia Sarihusada serta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang merupakan salah satu pelopor pendidikan kesehatan di Indonesia untuk memberikan edukasi atau sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak dan pencegahan malnutrisi di Indonesia melalui asupan gizi seimbang sedari dini untuk mewujudkan Indonesia sehat.
Menghadirkan narasumber
- Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) – Presiden Indonesian Nutrition Association (INA)
- Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB –Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH – Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada

Presiden Indonesian Nutrition Association/Perhimpunan Nutrisi Indonesia (INA), Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) memaparkan bahwa, Malnutrisi, apabila tidak dikenali dan diobati, dapat memperburuk kondisi kesehatan individu, terutama mereka yang berisiko seperti orang tua, penderita penyakit kronis, dan pasien dengan infeksi.
Malnutrisi tidak hanya memiliki dampak pada kesehatan fisik serta meningkatkan risiko kematian, tetapi juga memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan, seperti peningkatan biaya rawat inap dan rehabilitasi,”
Dalam upaya mengatasi malnutrisi, kegiatan Pekan Sadar Malnutrisi diadakan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai dampak malnutrisi terhadap kesehatan serta upaya pencegahannya.
Pekan Sadar Malnutrisi 2024 dilaksanakan dari 16 hingga 20 September dan mencakup kegiatan edukasi mengenai pencegahan dan penanggulangan malnutrisi.
Pentingnya pencegahan malnutrisi melalui asupan gizi seimbang dalam rangka mempersiapkan generasi emas yang sehat, berkualitas dan berdaya saing.
Namun demikian, upaya ini perlu keterlibatan berbagai pihak termasuk pemerintah, organisasi non-pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat umum untuk bersama-sama menggalakkan edukasi dan intervensi gizi.

Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menyampaikan bahwa pencegahan malnutrisi merupakan langkah krusial untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan optimal pada anak, serta menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan. “Namun, untuk menghadapi permasalahan ini diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, organisasi non-profit, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan malnutrisi.
Nutricia Sarihusada, sebagai perusahaan yang fokus pada nutrisi, berkomitmen untuk terus berkontribusi melalui berbagai produk nutrisi, riset dan inisiatif sosial guna mencegah malnutrisi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” papar dr. Ray.
Pencegahan malnutrisi adalah langkah krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan anak serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Target pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 bisa terhambat jika kesadaran dalam memberantas malnutrisi masih belum signifikan. Malnutrisi dapat dicegah dengan memberikan asupan nutrisi yang cukup sejak dini. Dengan memberikan makanan yang bergizi dan bervariasi, pentingnya menjadi ibu yang cerdas dan kreatif agar dapat membantu anak tumbuh kembang secara optimal dan menjadi generasi penerus yang sehat dan cerdas.

Sesuai dengan target pemerintah dalam menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan kesadaran dalam mengentaskan malnutrisi dalam mempersiapkan “Generasi Emas” yang sehat, berkualitas dan berdaya saing. Upaya ini perlu keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi non-pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat umum, guna bersama-sama menggalakkan edukasi dan intervensi gizi.