Dorong Peningkatan Kinerja Ekspor Indonesia, Mendag Lepas Ekspor Produk Baja Lapis PT Tata Metal Lestari

Industri baja di dalam negeri terus memperkokoh daya saingnya hingga sampai ke kancah global, pencapaian ini membuktikan bahwa produk lokal siap untuk berkompetisi dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia.
Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor nonmigas Indonesia, salah satunya adalah melalui ekspor produk baja. Upaya ini juga untuk menjaga kestabilan neraca dagang RI yang masih surplus selama 48 bulan berturut-turut.
Langkah nyata yang dilakukan Pemerintah untuk mendukung ekspor baja adalah saat kementerian Perdagangan melepas Produk baja lapis bermerek Nexalume, Nexium, dan Nexcolor yang diproduksi oleh PT Tata Metal Lestari sebanyak 8 kontainer pada hari Jumat 21 Juni 2024 berlokasi Plant Sadang, Purwakarta, Jawa Barat.
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan ekspor baja ini dikirim ke Australia, Kanada, dan Puerto Rico senilai US$808.262. Ekspor baja oleh Tata Metal Lestari ini merupakan kolaborasi nyata antara pemerintah dan pelaku usaha yang ditujukan untuk mendorong peningkatan kinerja ekspor nonmigas Indonesia, termasuk peningkatan ekspor produk baja Indonesia ke pasar global.
Tata Metal Lestari (TML) merupakan industri anak bangsa pelapisan baja beroperasi 2019 di Cikarang. Industri ini telah telah dirintis dari industri hilir bernama Tatalogam Lestari yang berdiri sejak 1994 memproduksi genteng metal, baja ringan dan material lain untuk konstruksi baja ringan (Light Gauge Construction).

Tata metal Lestari telah mengaktivasikan operasi manufaktur hijau (industri berkelanjutan) dan mengindahkan amanah hilirisasi untuk manuver ekspor untuk meningkatkan daya saing baja nasional di kancah global. Telah dilakukan ekspor ke 20 negara sejak tahun 2020, yaitu the US, EU, Australia, Kanada, dan negara lain.
Acara Pelepasan Ekspor dihadiri berbagai pejabat penting, termasuk Vice President Tata Logam Lestari Stephanus Koeswandi, PJ Bupati Purwakarta Drs. Benny Irwan, M.Si,M.A, Counsellor Economic and Trade dari Kedutaan Besar Australia, dan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero).

Sambutan pertama diberikan oleh Vice President PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi mengungkapkan, pihaknya telah mengembangkan ekspor ke 3 negara tersebut lantaran melihat ada peluang dari dampak perang dagang antara China dan AS. “Jadi bisa dibilang agak beruntung ekspornya karena kebetulan adanya pertarungan antara dua raksasa dan juga adanya perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) Indonesia dan Australia yang memungkinkan kita bisa melakukan ekspor ke Australia,” jelasnya.
Dia menyebutkan potensi nilai ekspor yang berhasil diraup dari kegiatan ekspor produk baja tersebut senilai Rp 24 miliar. Ke depan pihaknya pun berencana akan memperluas pabriknya dengan nilai investasi mencapai Rp 1,5 triliun.
Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara eksportir baja dunia urutan ke-8. Pada 2023, ekspor baja Indonesia jumlah totalnya mencapai 29,61 miliar Dolar AS. Kinerja ekspor baja Indonesia tidak terlepas dari peran dan kerja keras pelaku usaha Indonesia, termasuk salah satunya PT Tata Metal Lestari.

Mentri perdagangam Zulkifli Hasan mengungkapkan, ekspor baja ke Australia dan Kanada mampu menyeimbangkan neraca perdagangan. Beliau merasa bahagia karena tujuan ekspornya adalah Australia. Indonesia dan Australi memiliki perjanjian perdagangan dengan Australia, Seperti yang diungkapkan Mendag Zulkifli .
Pelepasan ekspor baja ke Kanada dan Australia merupakan momentum yang tepat dalam merespon permintaan baja Kanada dan Australia yang terus meningkat masing-masing sebesar 16,94 persen dan 14,72 persen dalam lima tahun.
Pada kesempatan yang sama Stephanus menyampaikan terima kasih kepada Menteri Perdagangan dan jajaran Kemendag yang telah mendukung pelepasan ekspor tiga produk ke tiga negara. “Ini dalam rangka mendukung program hilirisasi dan industri berkelanjutan Pemerintah Indonesia. Selain itu, FTA Indonesia dengan Australia juga memungkinkan PT Tata Metal Lestari melakukan ekspor ke Australia.

PT Tata Metal Lestari telah membuktikan mampu bertahan di masa sulit saat pandemi Covid-19 TML didirikan pada tahun 2019 telah membuat mereka mempelajari pasar baru (diversifikasi) dan meraih kesempatan walau didalam kesulitan akan menjadikan industri bertransformasi menjadi industri berkelanjutan.
Dan dengan semakin maraknya tantangan ke depan dalam perdagangan global, diharapkan adanya dukungan pemerintah Indonesia yang signifikan untuk dapat menembus pasar global yang lebih banyak lagi.
Kontribusi ekspor produk baja yang semakin signifikan menunjukkan bahwa industri baja nasional telah tumbuh menjadi semakin penting bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, PT Tata Metal Lestari semakin yakin untuk lebih bergerak ke arah pasar ekspor.
Pelepasan ekspor baja ke Kanada dan Australia merupakan momentum yang tepat dalam merespons permintaan baja Kanada dan Australia yang terus meningkat, masing-masing sebesar 16,94% dan 14,72% dalam 5 tahun terakhir.Untuk itu, Kemendag mengapresiasi kinerja ekspor Tata Metal Lestari.
Pada kesempatan yang sama Pj Bupati Purwakarta, Benni Irwan memberikan sambutannya. Beliau mengucapkan selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mendag Zulhas.
Tidak lupa mengucapkan selamat kepada PT. Tata Metal Lestari atas ekspor yang dilakukan. Bapak Benni juga menyatakan dukungannya kepada pihak-pihak swasta yang melakukan transaksi secara nasional, maupun secara internasional yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif kepada daerah dan masyarakat Kabupaten Purwakarta.

Dengan selalu mengedepankan prinsip industri hijau dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing produk baja di pasar global. jikalau kita mau jadi negara yang maju harus menguasai pasar dunia. Apalagi ini baja, UMKM saja kita bangga, apalagi ini termasuk industri yang teknologi tinggi. Harapannya, cita-cita bangsa Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045 bisa tercapai
Bapak Stephanus berharap Menteri Perdagangan dan Kemendag mendorong transfer teknologi melalui kemitraan dengan negara maju dan institusi penelitian, mendukung penerapan regulasi lingkungan yang ketat, mendorong pemberian pembiayaan, menyalurkan insentif untuk perusahaan yang mengadopsi teknologi manufaktur yang berkelanjutan, dan aktif berpatisipasi pada kegiatan ekspor.
Beliau juga berharap bahwa Kemendag sertifikasi dan memberikan label untuk produk ramah lingkungan, mendorong program pelatihan, edukasi dan kampanye publik dan pelaku usaha untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang praktik berkelanjutan.